Kembali aku disibukan dengan rutinitas pagi. Minum kopi, menyantap roti dan menghampriri televisi untuk sekedar meredam sunyi. Jangan tanya bagaimana aku setegar ini memulai hari. Butuh banyak energi untuk dapat berperang dengan kolase mentari. Jangan bayangkan seberapa jauh roda kendaraanku melindas aspal demi sampai ketempat kuliah. Tempat konstalasi berjajar secara sistematis. Kadang aku harus rela pergi sebelum fajar menggelar sinar di alam raya. Kemudian pulang ketika pekat jadi gorden bola gas api besar yang padat. .
Orang-orang terlalu asing untuk bisa aku kenal. Sampai-sampai tidak dapat bersosialisasi dengan perasaan sendiri. Seringnya kedua makhluk dalam tubuhku mengadakan perang dan kejar-kerjaran. Yang satu sangat pandai menciptakan ilusi, bersembunyi dibalik tirai imaji. Yang satu sangat senang berkonsturuktif dengan bagunan idealis. Mereka adalah hati dan akalku. .
Terkadang hati ingin mencari teman yang mampu mengerti setiap keadaaan diri. Namun akal mengahalangi dan menutup pandangannya. Akal bilang kalau aku belum terlalu siap untuk itu. Hati selalu bersikap tergesa-gesa namun akal selalu berusaha hati-hati dan bijaksana. Namun bukan berarti mereka saling membenci. Seringnya mereka sama-sama jadi kedua unsur yang membutuhkan dan yang dibutuhkan.
kemudian aku selalu bingung kepada orang yang menghakimi diri. mereka tak pernah mau memberikan kesempatan kepada hidupnya sendiri untuk berbahagia dan membuat jiwanya sehat. Bukannya masalah tak pernah sebesar manusia? Air mata tak pernah sederas air hujan. Pun dengan kekecewaan tak semenggelegar Guntur yang bersautan.
Ya memang aku tak sepantasnya bicara sebegitu. Setidaknya, Hey!! Aku pun pernah merasi cambukan pilu. Tapi aku mencoba bangun walau seringnya harus jatuh lebih sakit. Setidaknya berjalan dan mati lebih kreartif dari pada tidur untuk menunggu mati.
Ya memang aku tak sepantasnya bicara sebegitu. Setidaknya, Hey!! Aku pun pernah merasi cambukan pilu. Tapi aku mencoba bangun walau seringnya harus jatuh lebih sakit. Setidaknya berjalan dan mati lebih kreartif dari pada tidur untuk menunggu mati.

Komentar
Posting Komentar