Kau ingat hari dimana kau bercerita?
Duduk di bawah pohon senja. Badanmu kuyup akibat olah si gendut. Sedang mata gemuk menggelayut karena menangis. hingga nafasmu tersendat-sendat. Orang baru terkadang sulit menyesuaikan diri dengan waktu. Tapi tak apa, nampaknya kau mau terbiasa sabar menghadapi si gendut dan wataknya.
Waktu mulai merayap, kau tak lagi diintervensi oleh si gendut. Tapi sialnya malah tersesat di kota konservatif. Malam yang sia-sia, hujan yang tak lagi berirama, juga dengan bumi yang dirasa tak lagi prima. Selamat dirimu kembali tersesat.
Jika mau keluar, seharusnya menggunakan peta kejujuran yang dibaca diri sendiri.
Betapa sulit mengatan bahwa "ini bukan lagi diriku."
Saat namamu di elu-elukan semakin diri tidak terkendali. Langkah pun terseok-seok. Ketenangan batin terkalahkan hingar bingar mematikan.
Tidak perlu serepot itu untuk di cintai setiap manusia. Cukup berjalan apa adanya di alam raya. Adukan keluhkesah hanya kepada pencipta manusia.
Sebab manusia lain akan membenci ketika sesuatu yang mereka sukai hilang dari genggamanmu.
Pun akan segera mencaci kalau dirimu tak sesuai lagi dengan mereka yang berimajinasi.
Dan Kau ingat dimana kau berkelakar?
Saat masamu Digiring dimensi frustasi karena lupa bagaimana cara menggunakan titik.
Betapa banyak titik yang kau ciptakan akan menyambung sebuah garis waktu dan rentetan kisah. Ya tententu saja, Tuhan Maha Kreatif anugrahkan itu pada setiap insan.
Jangan dulu senang. Setiap kisah yang di beri titik bukan berarti mengakhiri perjalanan. Titik menandakan awal perjumpaan manusia dengan kisah yang baru.
Terserah kau saja. Mau apa dengan titik itu, mengawali dengan cerita bahagia? Atau mengakhirnya dengan tangis dan duka? Pilih saja!

Komentar
Posting Komentar