Langsung ke konten utama

Dibalik Pintu


"lantai ubi.. Lantai ubin...  Lantai ubiin.... "
Rumah Parjo di kelilingi oleh suara lirih bocah yang sedang berlarian diatas lantai ubin berukuran satu kali satu persegi. Lantai berwarna abu-abu semakin panas diinjak tergesek sepasang kaki kuyu; dua kalimat itu mendobrak menyusup kedalam ingatan Sunar ketika ia harus menerima hukuman dari paklik karena ulahnya yang susah diatur.
Katanya supaya Sunar mampu mendengar setiap kalimat dari Parjo ia harus menghitung lantai ubin di setiap penjuru rumahnya

Parjo sudah menganggap Sunar seperti anaknya sendiri ketika ia dititipkan oleh ayahnya semenjak ibu Sunar mati terlindas sepur. Beban kehidupan harus dipikul semakin berat ketika menyaksikan aksi kejar-kejaran ayahnya dengan sejumlah anggota polisi dan semenjak itu pula ayah Sunar menjadi tahanan politik akibat diduga menjadi anggota kerusahan G30S/PKI.

Setiap hari harus pergi sekolah dengan kaki telanjang, akibatnya ketika pulang sekolah ia perlu bersabar menahan sakit kaki yang  pecah-pecah akibat terlahap tajamnya krikil jalanan.  kakinya yang pecah-pecah itu ia sering diejek oleh kedua teman lelakinya; Wasno dan Wijen. katanya mana ada lelaki yang akan suka pada Sunar kalo kakinya rombeng seperti itu.

Sunar yang tinggal bersama paklik dan buliknya nampak tidak sebahagia kawan-kawan seusiannya. Sering sekali ia ditinggalkan paklik pergi keluar kota untuk berdagang. Bersamaan dengan itu Sunar hanya berdua dengan Narti, buliknya. Sunar kerap mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan. Lebam bekas tamparan pada pipi Sunar belum seberapa dibanding ketika Narti menyiram minyak panas dan mengenai hampir seluruh kaki kiri Sunar.
----
Malam itu ketika Parjo meninggalkan rumahnya untuk berdagang ke Wonokromo, Narti hanya berdua dengan Sunar. Lampu pijar yang tak bertahan lama setelah sholat isya. Aktivitas rumahpun senyap tanpa cicak yang nampak merayap.
Dari balik pintu terdengar satu dua orang yang mengetuk-ngetuk dan memanggil pemilik rumah dengan hampir berteriak. Lekas Narti membuka pintu tanpa berpikir siapa yang sedang mengetuk.
Sunar yang baru saja tidur ternyata belum terlalu nyenyak untuk dapat menghadirkan mimpi. Gadis itu kaget mendengar bukliknya menjerit, lekas ia membuka mata melihat dari celah lubang kunci. Seketika lututnya bergemetar, giginya berkemelutkan nafasnya terengah-engah. Mulutnya dibungkam oleh tanyannya sendiri kini semakin terlihat Mata Sunar mulai berembun. Ia harus menyaksikan buklinya ditusuk berkali-kali oleh tamu yang ia pun tak mengenalinya

---
Semenjak kejadian malam itu hari-hari Sunar semakin tidak mengenyenangkan. Setiap hari Sunar perlu di bonceng bergantian oleh kedua temannya Wasno dan Wijen.
 Ia menutupi dengan lakban lubang kunci pada kamarnya. "mengapa pintu kamar tidak ditutup" tanya Parjo pada Sunar.
Sunar hanya menggeleng, menandakan isyarat kalau ia tak senang jika tidur dengan pintu tertutup.

Sunar tak pernah mengeluarkan isi pendapatnya, mulutnya terdiam ketika Parjo hendak menikahkan Sunar dengan anak lelaki dari koleganya. Sunar memang tak sepintar kebanyakan anak yang lain. Namun ia mempunyai mata yang cerah ketika harus berhadapan dengan matahari, cekungan kecil dipipi muncul bersamaan dengan  lengkungan bibirnya yang mulai terukir perlahan.
Menikah setelah lulus SLTP pun harus menjadi pilihannya.

Setelah melahirkan anak pertamanya Sunar menjadi bahan perbincangan tetangga.
Teriakan Sunar mampu mengumpulkan telinga para tentangga di tengah rumah.

Kronologinya bermula saat bayi merah itu; yang nafasnya masih sayup terdengar pun dengan berkedipnya yang belum bulat sempurna menangis memekakan telinga Sunar namun Sunar hanya diam dan bersembunyi dibalik pintu dengan lakban yang menutupi lubang kunci.
Berbarengan dengan itu Demas tetangganya mencoba mengetahui suara bayi yang tak berhenti menangis. Demaspun meraih sigap dan menggendongnya.  Namun ia tak berhenti menangis dan malah membuat ruangan semakin bergema, bersahut sahutan dengan derasnya hujan dan gelegarnya gemuruh.
Mata itu semakin mendelik. Dari balik pintu Sunar kemudian berlari dengan pisau dapur ditangannya, menghujami perut Demas dengan benda tajam dua atau bahkan beberapa kali.

"Kau ini gila Sunar!" Rintih Demas dengan suaranya yang lirih

Membanting pintu, ia berlari membelah hujan sambil menggendong anaknya. Berlarian sambil cekikikan "Kamu sudah aman nak".


Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Memilih Sudut Pandang atau Point Of View dalam Cerpen

Salah satu unsur intristik yang selalu dianggap penting dan mendapat perharian adalah pengembilan sudut pandang atau yang sering disebut sebagai Point Of View (POV). Dalam menyampaikan sebuah cerita penulis biasanya menggunakan beberapa teknik penulisan. Adapun jenis-jenisnya sebagai berikut: 1. Sudut pandang orang pertama Dalam penulisan teknik sudut pandang orang pertama pembaca seakan-akan terlibat aktif dalam cerita tersebut.  a.  Tunggal Tektik penulisan cerita ini, penulis menggunakan kata ganti 'aku' atau 'saya' b. Orang ketiga jamak Dalam sudut pandang orang ketiga jamak penulis menggunakan kata ganti 'kami' atau 'kita' dalam penyampaian ceritanya.  2. Sudut pandang orang ketiga Sudut pandang orang ketiga adalah teknik yang dilakukan penulis untuk menjelaskan jalan cerita dengan memposisikan diri sebagia bagian dari luar cerita. Dalam artian sudut pandang orang ketiga ini tidak mengajak pembaca aktif untuk terlibat dalam cerita. Biasa...

Pengaplikasian Diksi dalam Penulisan Cerpen

Hallo sahabat aksara, kali ini selasar aksara akan hadir dengan materi tentang pemilihan diksi ketika menulis cerpen. Diksi adalah pilihan kata. Selain  itu, diksi dapat diartikan pula sebagai gaya bahasa, ungkapan-ungkapan pengarang untuk mengungkapkan sebuah cerita. Ketepatan dalam pemilihan kata dalam menyampaikan gagasan. Pengarang harus memiliki kemampuan dalam membedakan secara tepat nuansa-nuansa makna, sesuai dengan gagasan yang ingin disampaikan dan kemampuan menemukan bentuk yang sesuai dengan situasi dan nilai rasa pembaca. Menguasai berbagai macam kosakata dan mempu memanfaatkan kata-kata tersebut menjadi kalimat yang jelas, efektif, dan efisien. Nah sekarang dibawah ini akan diberi contoh tentang pengaplikasian diksi dalam cerpen Judul cerpen      :  Mudik ke Kampung Majikan Pengarang          : Abdul Muamar Tahun terbitan  : 10 Juni 2018 Terbit                ...

Menyisipkan Amanat dalam Cerpen

Halo sahabat Aksara. Suatu karya tidak akan ada artinya kecuali jika penulis menyelipkan pesan yang tersembunyi di dalamnya. Cerpen yang bagus adalah yang mampu memberikan pesan atau kesan bagi para pembacanya, syukur-syukur dapat membuat pembaca merubah hidupnya menjadi lebih baik. Dalam cerpen pesan tersebut sering diistilahkan sebagai Amanat; Amanat merupakan pesan moral pada sebuah cerpen. Biasanya penulis menyampaikan amanah sesuai tema. Ada pula penulis yang menggunakan unsur lain untuk menyampaikan amanat secara tersirat dalam penulisan sebuah karya. Amanat berisi nilai norma moral, kemasyarakatan yang bertujuan untuk memberi teladan pada pembaca Meletakan amanat biasanya disampaikan tersirat; artinya amanah penulis sisipkan pada jalan cerita, atau pun secara tersurat, disampaikan di dialog yang dikemukakan tokoh. Berikut adalah ulasan dalam menemukan suatu amanat dalam sebuah cerpen Judul          :  Aroma Doa Bilal Jawad Pengarang:...