Setiap pasang mata menjatuhkan pandangannya kesudut ruangan kala ada sejumlah mahasiswa datang berangsur-angsur. mengetuk pintu, mengucapkan salam dan meminta maaf atas keterlambatannya untuk datang pada perkuliah di hari pertama. Sampai dosen berpesan pada seluruh mahasiswa, untuk tidak mengetuk pintu dan meminta maaf atas keterlambatan ketika sedang mengikuti perkuliahannya. Karena terlambat bukanlah suatu kecelakaan melainkan kebiasaan. Ucapan itu kemudian mengendalikan seisi ruangan, dan mampu menggiring kembali ketekunan yang baru saja berhamburan.
"kamu bawa motor? Dimana kamu menyimpan motormu?" pertanyaan itu seketika melayang tepat dihadapan pandanganku
"iya pak, bawa"
"disimpan dimana?"
"depan masjid." kataku
"kamu tau dimana rohmu disimpan?" pertanyaan itu membuat seluruh pasang mata menusuk leherku.
Ya, jelas saja aku tak pernah bisa menjawabnya. Karena memang tak pernah tahu apa jawabannya.
Pertanyaan macam apa ini? Setiap orang pasti tak pernah mengetahui dimana rohnya disimpan?
Bahkan Tidak pernah ada catatan sains yang mampu membuktikan dimana roh manusia disimpan. .
Seperti ketika aku menyimpan barang rahasia milikku. Aku tentu akan menyembunyikannya dari setiap pandangan. Agar hanya aku, sangpemilik benda rahasia yg hanya mampu melihatnya.
sama halnya seperti keadaan rohku disimpan. Ketika aku tak pernah tau dimana rohku disimpan. Ini adalah sejumlah tafsir bahwa aku beserta apa yang kubawa. Sesungguhnya bukanlah kepunyaanku. Walau bagaimanapun aku mengakuinya. Hanya sang Maha pemiliknyalah yang mengetahui dimana rohku disimpan.
Kemudian aku berusaha mengambil makna, bahwa tempat rahasia itu benar-benar ada. Dimana Sang Maha mengetahui, Maha pula menyembunyikan segala sesuatu dari siapapun

Komentar
Posting Komentar