Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2018

Pribumi

Indonesia katanya surga bagi pribumi. Apa sudah seindah berita yang tersiar ditelevisi. Katanya televisi jendela dunia, tapi kenapa kita ga melihat langsung dunia dari jendela sendiri.  Memang di Indonesia begini keadaannya. Orang besar selalu dikerdilkan. Orang jujur pasti akan selalu dibungkam Orang berani pasti ujung-ujunganya di bunuh Kalo orang berani pada dibunuh, siapa lagi yang bakal berani maju jadi pelopor? . Lebih mainstrem lagi mimpi dan cita-cita rakyat sekarang sudah dikenai pajak. Kebanyakan remaja lebih rasis dan di manja-manja sama hal berbau romantis.  Hingga kemudian akhirnya skeptis.  Lalu ada pula segelintir yang rela menukar masa bermainnya dengan sesuap nasi. Berlombadengan waktu dan bergulat dengan sekumpulan kertas koran ataupun sekotak alat semir sepatu. . Apa lagi yang kurang dari negri kita?  Negri Indonesia yang katanya surga bagi pribumi

Goutha [1]

Fajar belum sempurna menggelar sinar di halaman semesta.  Namun orang-orang harus kembali memunguti sisa -sisa penat yang berserakan.  Pagi ini negriku di bangunkan oleh Gegap gempita sirine yang membuat ruang dengar manusia pekak. Tangisan anak yang lenyap air asi ibunya. Teriakan ibu yang kecurian pelukan anaknya. Dan rintihan perut yang nihil dari gandum. Disaat anak-anak semuurku dibuat senang dengan melipat kertas origami. Sedang Aku, membuat ranjang kertas dari bekas burung origami  kemarin lusa. Sebab kertas dan barang-barang yang lain sudah basah di tumpahi tangisan dan darah ibu Aku masih terlalu kecil untuk mengerti. Mengapa mereka sampai tega membakar teman-temanku. Berani melempar rudal demi membantai ibu dan ayah. Tidak ada tempat perlindungan aman dan nyaman bagi kami. Selain dari bakas reruntuhan gedung yang kasatnya masih terlihat layak untuk dijadikan tempat sembunyi dari terik. "Dik, kejadian disini yang sampai kepada mereka hanyalah...

Hey, Aku di sini!

Kau ingat hari dimana kau bercerita?  Duduk di bawah pohon senja. Badanmu kuyup akibat olah si gendut.  Sedang mata gemuk menggelayut karena menangis. hingga nafasmu tersendat-sendat. Orang baru terkadang sulit menyesuaikan diri dengan waktu. Tapi tak apa, nampaknya kau mau terbiasa sabar menghadapi si gendut dan wataknya.   Waktu mulai merayap, kau tak lagi diintervensi oleh si gendut. Tapi sialnya malah tersesat di kota konservatif. Malam yang sia-sia, hujan yang tak lagi berirama, juga dengan bumi yang dirasa tak lagi prima. Selamat dirimu kembali tersesat.  Jika mau keluar, seharusnya menggunakan peta kejujuran yang dibaca  diri sendiri.  Betapa sulit mengatan bahwa "ini bukan lagi diriku." Saat namamu di elu-elukan semakin diri tidak terkendali. Langkah pun terseok-seok. Ketenangan batin terkalahkan hingar bingar mematikan.  Tidak perlu serepot itu untuk di cintai setiap manusia. Cukup berjalan apa adanya di alam raya. Ad...

Tugas Madrasah Pena yang Pertama

Kali ini saya posting tugas menulis dari madrasah pena. Tugas ini adalah kutipan dari cerpen karya Haifa. Peraturannya adalah harus mengkoreksi tanda baca supaya sesuai dengan PUEBI. Tanda baca yang kurang tepat akan ditandai dengan warna ungu, kemudian akan ditulis kembali di bawah gambar. Semoga teman-teman mau koreksi ya  Hujan di senja hari mengguyur deras. Dinginnya merayu dua insan untuk bersimpuh di perapian rumah. Ditemani dua cangkir teh hangat. Keduanya bercengkrama ringan. “Nak, menurutmu bagaimana rasanya jika engkau menggenggam bara api itu?” tutur seorang wanita tua kepada cucu-cucu tersayangnya sambal menunjuk ke arah perapian. “Panas lah nek. Nanti tangan Dinda terbakar… Nenek ada-ada saja nih nanyanya.” Jawab cucunya sambal cengengesan. “Anakku… ada masa dimana nanti ketika kau mempertahankan agamamu, seperti kau menggenggam bara api,” sang nenek mengepalkan tangannya dengan kuat sambal tersenyum kea rah cucunya, “meskipun rasanya terbakar, janga...

JEJAK

Kembali aku disibukan dengan rutinitas pagi. Minum kopi, menyantap roti dan menghampriri televisi untuk sekedar meredam sunyi. Jangan tanya bagaimana aku setegar ini memulai hari. Butuh banyak energi untuk dapat berperang dengan kolase mentari. Jangan bayangkan seberapa jauh roda kendaraanku melindas aspal demi sampai ketempat kuliah. Tempat konstalasi berjajar secara sistematis. Kadang aku harus rela pergi sebelum fajar menggelar sinar di alam raya. Kemudian pulang  ketika pekat jadi gorden bola gas api besar yang padat. . Orang-orang terlalu asing untuk bisa aku kenal. Sampai-sampai tidak dapat bersosialisasi dengan perasaan sendiri. Seringnya kedua makhluk dalam tubuhku mengadakan perang dan kejar-kerjaran. Yang satu sangat pandai menciptakan ilusi, bersembunyi dibalik tirai imaji. Yang satu sangat senang berkonsturuktif dengan bagunan idealis. Mereka adalah hati dan akalku. . Terkadang hati ingin mencari teman yang mampu mengerti setiap keadaaan diri. Namun akal ...