Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2018

Redup

Langit Bandung diguyur kemuning senja. Sepasang mata tepat menyaksikan kepergian matahari. Menangisi semesta yang dirukupi pekat. Mata itu tak lagi berbinar. Korneanya menyemburatkan sendu yang pula tergaris di bibirnya "Mila,  aku akan segera kembali." Kata-kata itu terus mendengung keras seperti lebah kepayau di ruang dengarnya. Satu dua kali ia terpekur memandangi wajah kekasih yang sempat tertangkap layar ponselnya.  Hay dan apa kabar adalah dua kata yang paling dirindukan untuk saat ini Gadis itu kembali memanggil pelanginya. Bersamaan dengan itu pelangi pun berhasil menerima sinyalnya. Sedang warna yang paling dicintai adalah warna jingga.  Katanya walaupun jingga disebut menyeramkan bagi sebagian orang,baginya jingga dapat menenangkan dengan segala keserhanaan yang dimilikinya Sore itu ia membawa pelanginya mmelewati kembali jalan Braga. Berbincang mengenai seribu satu lukisan mengagumkan.  memesan dua cangkir teh di jalan sumbawa untuk sekedar menamb...

Tugas Madrasah Pena yang ke-3

"Identitas cerpen" Judul: Cecep dan Sukmana Penulis: Aldi Aldinar Penerbit: Pikiran rakyat, 16 April 2017 Dalam cerpen Cecep dan Sukmana, diceritakan Hikayat persahabatan yang dibuat amat dramatis.  Setelah kepergian ayah beserta ibunda Cecep akibat penyakit kusta yang dialami keduanya. Cecep hidup sebatang kara dan tak lagi mempunyai tempat peraduan. Hingga suatu hari Cecep bertemu dengan hal yang mampu mengembalikan semangat dan kepercayaan dirinya. Adalah sukmana, yang seketika membuat hari-hari cecep kini dapat seperti sedia kala. Karena tak ada yang dapat diperbuat oleh Sukmana. Tentunya sangat banyak terdapat kekurangan yang dimiliki sukmana. Namun apa daya Cecep tak memperdulikan hal itu. Ia tetap saja mengurusi segala keperluan sukmana. Sampai pada ketika cecep harus pergi kuliah dan merelakan sukmana diurusi orang lain.  Tak dipungkiri cecep yang memperjuangkan kehidupan sukmana. Harus rela meninggalkan Sukmana demi cita dan harapan Cecep.  ...

Tanpa Irama

Akhir pekan adalah waktu yang tepat untuk mengistirahatkan perasaan. Siang yang lelah aku rebahkan dengan bersih dari amarah. Aku dengar puisi kini telah berubah haluan Yang awalnya menggetarkan perasaan kini jadi candaan. Hiburan yang menyedihkan. Puisi tak lagi bersukma sastra, kini lariknya melahirkan Sara memang betul, zaman sekarang orang tak lagi berestetika. Aaah jangan salahkan puisi, mungkin kekurangan terletak pada yang sedang berkomunikasi Akan tiba Zaman dimana orang tidak akan sadar walaupun simbolnya terlepas. Ketika jatuh, diambil orang lain kemudian di bentuk sedemikian rupa. Ideologinya dibenturkan sejadi-jadinya. Yah, masih ternina bobokan Namun tidak!  Jangan dulu menggukanakan kacamata yang retak. Masih banyak kok kesatria yang semakin pandai meretas miniatur penjajahan Intinya hanya kurang jelas? Jadi seperti ini, jangan sembarangan menggunakan sosial media. Berbicara lah yang penting jangan yang penting berbicara. Terkadang orang orang yang...

Tempat Rahasia

Setiap pasang mata menjatuhkan pandangannya kesudut ruangan kala ada sejumlah mahasiswa datang berangsur-angsur. mengetuk pintu, mengucapkan salam dan meminta maaf atas keterlambatannya untuk datang pada perkuliah di hari pertama. Sampai dosen berpesan pada seluruh mahasiswa, untuk tidak mengetuk pintu dan meminta maaf atas keterlambatan ketika sedang mengikuti perkuliahannya. Karena terlambat bukanlah suatu kecelakaan melainkan kebiasaan. Ucapan itu kemudian mengendalikan seisi ruangan, dan mampu menggiring kembali ketekunan yang baru saja berhamburan.  "kamu bawa motor? Dimana kamu menyimpan motormu?" pertanyaan itu seketika melayang tepat dihadapan pandanganku "iya pak, bawa" "disimpan dimana?" "depan masjid." kataku "kamu tau dimana rohmu disimpan?" pertanyaan itu membuat seluruh pasang mata menusuk leherku.  Ya, jelas saja aku tak pernah bisa menjawabnya. Karena memang tak pernah tahu apa jawabannya.  Pertanyaan ma...

Tugas Madrasah Pena yang Ke-dua

Tugas kelas menulis online madrasah pena kali ini adalah mengulas tiga jenis cerpen, Berdasarkan jumlah kata cerita tersebut atau yang sering dikenal sebagai akronimnya. Cerpen dibagi kepada tiga bagian yaitu cerpen mini/flash fiction, cerpen ideal, dan cerpen panjang. Nah dibawah ini adalah karyanya masing-masing, teman-teman nanti bisa cek lebih lanjut dengan karya-karyanya 1.      Cerpen Mini/ Flash Fiction Judul: Menunggu kelahiran Penulis: Akhil Bashiro Terbit: Suara Merdeka Tahun 2017      Disaat semua orang berbinar menanti-nanti kehadirannya. Lagi pula setiap ibu pasti mengidamkan dengan segera kelahiran bayi yang selama sembilan bulaan ia kandung. segala hal dapat disiapkan secara sempurna mulai dari menjaga kesehatan, dan memenuhi kebutuhan yang sekiranya dipelukan oleh sang calon ibu dan bayinya kelak. Namun tidak dengan bayi itu. bayi yang masih terkurung dalam rahim ibunya yang gemar mengutuk dirinya send...