Detik ini matahari sudah mulai turun dari titik kulminasinya. Suasana hati kian menyesuaikan dengan bulir hujan yang bergantian turun satu persatu. Tenang dan sabar, mengetuk-ngetuk jendela kami seperti segerombolan anak kecil yang tidak sabar mengajak kami pergi bermain. Suasana kelas disibukan dengan aktifitas yang itu-itu saja. Layar proyektor yang menyala, sebagian mahasiswa yang sibuk dengan smart phonya, sedang sebagiannya lagi fokus pada manusia yang sedang menjelaskan seluruh isi kepalanya. Disudut sebelah kanan ada yang menyibukan diri dengan cermin ajaibnya, ia berceracau sendiri, dipikir tidak ada sepasang mata pun yang sedang mengawasinya. "Cermin ajaib, siapa gadis tercantik di ruangan ini? ". Tiba-tiba terdapat notif di phonselku. Seperti ada kupu-kupu yang berhamburan terbang memenuhi seisi perut. Tawaku menyeringai, kakiku tidak sabar untuk mengambil langkah seribu ingin buru-buru keluar men...
Aku kembali melewati rel kereta tanpa palang, yang bertulis silang; awas kereta, awas sepur. Berjalan gontai sebelum memutuskan untuk setengah berlari. Masih separuh dari perjalan pulang, aku malah makin terengah-engah. Dengan kedua tanganku yang harus berkonsentrasi menuntun sepedah yang bocor bannya akibat terlalu panas terkena gesekan pada aspal. Pedal yang menggantung disepedahku pun memacu kecepatannya berputar keatas dan kebawah mengikuti kakiku yang mulai aku tambah daya lajunya. Untung saja matahari sudah mulai turun. Jadi aku bisa menahan kehausan yang mulai meradang ditenggorokan. Seharusnya aku bisa membeli walau hanya segelas air mineral untuk meredakan keringnya tenggorokan. Namun uang jajanku habis akibat mulutku yang tidak tahan melihat godaan lontong sayur berlama-lama menggelitik kedua mataku. Padahal sebelum pergi sekolah, sudah kuhabiskan satu piring penuh lontong sayur buatan ibu. “Anwar!" Sebuah suara tetiba mendekat. Sialan batinku, ternyata itu adalah...