Aku kembali melewati rel kereta tanpa palang, yang bertulis silang; awas kereta, awas sepur. Berjalan gontai sebelum memutuskan untuk setengah berlari. Masih separuh dari perjalan pulang, aku malah makin terengah-engah. Dengan kedua tanganku yang harus berkonsentrasi menuntun sepedah yang bocor bannya akibat terlalu panas terkena gesekan pada aspal.
Pedal yang menggantung disepedahku pun memacu kecepatannya berputar keatas dan kebawah mengikuti kakiku yang mulai aku tambah daya lajunya. Untung saja matahari sudah mulai turun. Jadi aku bisa menahan kehausan yang mulai meradang ditenggorokan. Seharusnya aku bisa membeli walau hanya segelas air mineral untuk meredakan keringnya tenggorokan. Namun uang jajanku habis akibat mulutku yang tidak tahan melihat godaan lontong sayur berlama-lama menggelitik kedua mataku. Padahal sebelum pergi sekolah, sudah kuhabiskan satu piring penuh lontong sayur buatan ibu.
“Anwar!" Sebuah suara tetiba mendekat. Sialan batinku, ternyata itu adalah Toni si gempal pembuat onar. Tidak cukup apa ia membuat seragamku basah tadi siang. Untungnya bukan air comberan dari belakang sekolah yang ia ambil untuk menyiram badanku. Karna pasti baunya minta ampun tidak karuan, mengingat musim kemarau yang belum juga usai membuat air keruh itu akan semakin memperoduksi aroma bangkai tujuh rupa.
Aku tanggapi sapaannya dengan mendelikan mataku yang hampir tenggelam terhimpit oleh luasnya diameter pipiku.
“Ban mu bocor ya?" Nada meledek, "Makannya badan segede sapi bunting itu ga bisa naik sepeda kelinci”.
Sambil tertewa ia berlalu dihadapanku, merenggut dan melempar tas ranselku kehamparan sawah yang mengalami kekeringan. Tertawanya yang terbahak-bahak membuat seluruh lemak pada perutnya ikut berguncang. Badanku memang hampir sama bulatnya dengan milik Toni, namun bedanya aku memiliki postur yang lebih tinggi. Sedangkan Toni mempunyai selisih agak jauh untuk menyusul ketertinggalannya yang berada dibawah daun telingaku. Sepedanya saja tak terlalu besar dibandingkan dengan punyaku. Setidaknya karena tinggi badanku yang cukup mumpuni membuatku merasa lebih percaya diri untuk mengikuti estrakulikuler cabang basket disekolah
Musim kemarau kali ini memang sedikit menguji kesabaran warga-warga desaku. Banyak panen yang harus tertunda. Ketika matahari sedang tinggi-tinnginya dawegan menjadi barang yang istimewa dan yang paling dicari. Sepanjang jalan, aku melihat sawah yang kelabu dan retak. Di musim kemarau seperti ini kebanyakan dari mereka akan membuang air besar di celah-celah sawah yang retak. Sepanjang jalan aku melihat parit-parit kering, sungai-sungai kering, pohon-pohon kurus dan gersang. Pemandangan di sekitarku berwarna coklat. Coklat kering dan tandus. Seluruhnya. Ternyata penampakannya lebih jelas saat aku berjalan dan menuntun sepedahku.
Setibanya dirumah aku melempar seragam yang seharusnya kugantung di balik pintu kamarku. Udara makin padat dan panas. Angin yang dihasilkan oleh baling-baling pemutar dibalik kipas pendingin pun kurasa sudah tak ada gunanya lagi. Akibatnya tanganku yang buntet harus ikut mengipas-ngipas mukaku yang mulai kemerahan warnanya.
Kudengar penampakan angin semakin kencang menggaruk-garuk cabang pohon yang berada disebrang jendela kamarku. Membuat daun-daun kering lepas dari tangkainya dan sebagiannya berseliweran masuk kedalam kamarku. Aku kemudian berdiri tegak dan menatap penuh heran. Mengapa tetiba ada angin besar yang membawa perasaan yang gersang. Matahari sudah makin turun. Lazuardi sebelah barat kini dipenuhi oleh gumpalan awan-awan hitam. Kupandangai awan itu satu demi satu. Lekat sekali, imajinasiku membayangkan ada kuda terbang atau malah kelinci montok yang melompat keatas langit.
Tidak ada gemuruh yang bersautan, hanya ada petir halus yang melukiskan akar-akar pohon diatas langit yang mulai temaram. Senyumku semakin merekah. Tidak lama kemudian gerimis menyerpih dari kelapa tepi jalan menuju kedalam kamarku. Sedang langit Barat sedikit masih memancar sinar matahari. Hujan pertama datang mengetuk jendela kamarku, orang-orang berhamburan keluar dari rumahnya ikut menyambut hujan dengan penuh suka cita.
Saking rindunya kepada petrichor, aku pun mengambil langkah seribu untuk keluar, mendobrak pintu rumah. Mengabaikan suara ibu yang memanggilku dari balik pintu. Aroma tanah kering yang yang mulai basah terguyur hujan itu sangatlah menggoda. Membuat hormon dophamine dan oxytice diproduksi semakin banyak. Membahagiakan sekaligus membuat rindu aroma hujan menjadi candu.
"Anwar ayo sini!" Sapa Ujang yang tiba-tiba terlihat dari balik jalan yang menuju arah gunung Langgang.
Aku melambaikan tangan pada Ujang, ia adalah kawan terbaik di sekolah, membatuku mengeringkan baju selepas kuyup oleh kelakuan si gendut. Setelah kami berbalas senyum Ujang memberi tawaran untuk bermain dekat sungai. Berada pada jalan yang digunakan ketika warga hendak menuju gunung Langgang.
Sungai memang selalu menjadi pilihan untuk beraktivitas, terlebih warga desa yang sering mencuci dan mandi menggunanakan air sungai. Namun semenjak kemarau aktivitas sungai menjadi sepi, dan sering terdengar cerita-cerita menyeramkan tentang sungai jalan gunung itu.
Meskipun banyak cerita menyeramkan namun tidak menyurutkan semangat Ujang dan kawan-kawannya untuk pergi kesungai. Dan Akhirnya Aku tertular rasa penasaran itu.
Aku perhatikan mereka melompat-lompat diatas air. Volume hujan yang semakin membesar malah membuat kami bersemangat untuk main air. Selagi asyik bermain salah satu teman kami mengingatkan ucapan ibunya bahwa main disungai ketika sedang turun hujan itu pamali katanya.
"Aah itu mah mitos, lagian ga akan apa-apa lanjutnya kita kan rame-rame." Kata anak yang paling tinggi.
Yang ku ingat aku hanya main di tepian, menghanyutkan perahu-perahuan yang aku buat dan langkah membawaku menyusuri batu-batu besar. Menikmati bulir-bulir air hujan yang menerpa wajahku semakin keras. Sampai suara Berat itu memanggil, Memaksaku untuk cepat-cepat membuka mata.
"Anwar" Suara itu kemudian datang lagi
"Ya", kali ini aku meresponnya dengan keadaan yang lebih tenang.
"Sudah saatnya kamu pergi." Entah itu suara pria atau wanita samar-samar penglihatan dan pendengaranku. Yang bisa kutangkap dengan jelas adalah ia menggunakan atribut yang serba hitam. Tegap dan sangat tinggi.
"Mau kemana?" tanyaku penuh heran.
"Memenuhi panggilan Tuhan." Katanya dengan suara datar. Lantas aku tercengang sejadi-jadinya.
"Maksudmu?" Aku masih saja keheranan. Bagaimana bisa? Ketika aku sudah menemui Tuhan memangnya aku harus melakukan apa disana? Banyak pertanyana yang memenuhi relung-relung dadaku.
Sebuah sosok tinggi besar itu menjelaskan dengan yakin bahwa aku sudah mati ditelan sungai, magrib kemarin. Seketika mataku membulat. Bertanya dalam hati, sandiwara apa yang sedang ia perankan, mengesalkan sekali.
"Kalau memang aku sudah mati, Bagaimana itu bisa terjadi?"
Ia pun mulai bercerita tentang keadaan terakhir yang aku ingat. Tentang lumut yang mengendap dan batu yang licin disapa air hujan. Tentang teman-teman yang membelakangiku dan sibuk dengan permainannya masing-masing. Aku tergelincir, dengan keadaam kepala terkantuk batu hingga membuatku tak sadarkan diri dan derasnya air sungai yang mulai meninggi mampu menghanyutkan tubuhku.
Sedang aku tak pernah tahu bagaimana keadaan ibu yang mengkhawatirkan keadaan anaknya karena terlalu ayik bermain hingga tak tahu lagi waktu.

Hmmmm hmmm hmmmm bagus
BalasHapus