Aku kembali melewati rel kereta tanpa palang, yang bertulis silang; awas kereta, awas sepur. Berjalan gontai sebelum memutuskan untuk setengah berlari. Masih separuh dari perjalan pulang, aku malah makin terengah-engah. Dengan kedua tanganku yang harus berkonsentrasi menuntun sepedah yang bocor bannya akibat terlalu panas terkena gesekan pada aspal. Pedal yang menggantung disepedahku pun memacu kecepatannya berputar keatas dan kebawah mengikuti kakiku yang mulai aku tambah daya lajunya. Untung saja matahari sudah mulai turun. Jadi aku bisa menahan kehausan yang mulai meradang ditenggorokan. Seharusnya aku bisa membeli walau hanya segelas air mineral untuk meredakan keringnya tenggorokan. Namun uang jajanku habis akibat mulutku yang tidak tahan melihat godaan lontong sayur berlama-lama menggelitik kedua mataku. Padahal sebelum pergi sekolah, sudah kuhabiskan satu piring penuh lontong sayur buatan ibu. “Anwar!" Sebuah suara tetiba mendekat. Sialan batinku, ternyata itu adalah...